Oleh Syaikh Utsaimin
Syaikh Bakr Menulis dalam Bukunya:
“Apabila engkau mendapatkan kesalahan seorang ulama, maka janglah engkau senang untuk merendahkan martabatnya, namun senanglah karena engkau bisa membenarkan kesalahannya. Karena orang yang jujur akan memastikan bahwa tidak ada seorang ulamapun yang lepas dari kesalahan dan kealpaan, terutama ulama yang banyak karya ilmiyahnya. Tidak ada orang yang senang untuk meremehkannya dengan kesalahan ini kecuali orang yang berlagak pandai, orang semacam ini ingin menyembuhkan penyakit pilek malah mengakibatkan sakit lepra. Ya… memang harus diingatkan kesalahn atau kelalaian seorang ulama yang sudah dikenal tentang keilmuan dan keutamaannya namun jangan sampai hal itu mengurangi kehormatannya yang akan mengakibatkan orang lain terperdaya.”
Syarah (Syaikh Utsaimin):
Sikap seorang terhadap kesalahan seorang ulama baik yang hidup sebelumnya atau yang semasa dengan dia ada dua cara:
1. Meluruskan kesalahannya
Seseorang wajib mengingatkan sebuah keslahan orang lain meskipun dia seorang ulama besar, baik dia hidup semasa dengannya atau sebelumnya, karena menjelaskan kesalahn seseorang adalah hal yang wajib. Dan jangan sampai menghilangkan sebuah kebenaran hanya karena menghormati orang yang mengatakan kebatilan, karena menghormati kebenaran itu lebih diutamakan.
Namun apakah harus secara langsung menyebutkan nama ulama yang mengatakan sebuah keslahan tadi? Ataukah cukup dengan mengatakan:”Ada sebagian orang yang salah dengan mengatakan begini dan begitu?” Jawabnya:” ini dilihat kepada maslahatnya. Kadang-kadang demi sebuah kemaslahatan yang tidak perlu secara terus terang menyebutkan namanya, misalnya, apabila yang melakukan keslahan itu seourang ulama yang sangat mahsyur pada masanya dan dipercaya lagi dicintai ummat. Karena kalau dia mengatakan:”Si fulan mengatakan begini dan begitu, dan ini adalah sebuah kesalahan,” maka ummat tidak akan menerimanya bahkan mencemoohnya, serta mengatakan:”Siapakah kamu ini? Berani sekali kamu membantah ulama fulan” Dan merekapun tidak akanmenerima kebenaran itu. Dalam keadaan ini hendaklah dia mengatakan:”Termasuk kesalahan kalau ada yang mengatakan demikian.” Dan jangan mengatakan:”Fulan berkata demikian.”
Namun terkadang orang yang mengatakan kesalahn itu hanya mempunyai pengikut sedikit di masyarakat, dan tidak mempunyai banyak banyak pengaruh ditengah-tengah masyarakat, maka saat itu hendaklah disebut terus terang namanya, sehingga orang lain tidak tertipu dengannya, dengan mengatakan:”Fulan berkata demikian, dan ini salah”.
2. Terkadang ada orang yang menyebutkan kesalahan ulama semasanya atau yang sebelumnya dengan tujuan membongkar aibnya, bukan untuk menjelaskan kebenaran.
Ini terjadi pada orang-orang yang memepunyai penyakit hasad dalam hatinya. Dan dia berharap bias menemukan sebuah pendapat yang lemah atau kesalahan orang lain, lalu dia menyebarkannya ditengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu engkau menjumpai ahlu bid’ah melecehkan syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, mereka mecari-cari sesuatu yang paling bisa digunakan untuk mencelanya, lalu mereka menyebarkannya dan menghinanya. Mereka katakana:” Ibnu Taimiyyah meyelesishi ijma’ tatkala mengatakan bahwa thalaq tiga sekaligus dihitung satu. Ini adalah pendapat yang aneh dan barang siapa yang berpendapat aneh (sendiri) maka dia akan masuk neraka. Dia juga menghukumi bahwa seorang suami jika mengatakan kepada istrinya:”Engkau saya cerai,” maka dia harus membayar kaffarah (denda) sumpah, padahal dia tidak bersumpah samasekali dan hanya mengatakan:”Jikalau engkau berbuat begini, maka engkau saya ceraikan”. Ibnu Taimiyyah juga mengatakan bahwasanya Allah masih terus berbuat, dan pendapat ini mempunyai konsekwensi bahwasanya ada yang qadim selain Allah, karena semuanya ini terjadi akibat perbuatan Allah, maka jika perbuatan Allah itu qadim maka yang terjadi akibat perbuatan itupun qadim, sehingga dengan demikian dia telah mengatakan adanya dua ilah. Juga ucapan semisalnya yang ambil dari ketergelinciran ucapan beliau lalu mereka menyebarkannya di tengah-tengah masyarakat. Padahal yang benar dalam semua masalah ini adalah beliau. Namun mereka itu adalah orang yang hasad lagi pendendam – Naudzubillah mi dzalik-, maka lain lagi urusannya.
Oleh karena itu sikapmu terhadap kesalahan ulama sebelemu hendaklah didasari dengan tujuan mencari kebenaran. Karena barangsiapa yang tujuannya mencari kebenaran maka akan diberi taufiq untuk menerima kebenaran itu. Adapun orang yang bertujuan mencari-cari kesalahan saudaranya, maka orang semacam ini akan dicari-cari kesalahannya oleh Allah. Dan baramngsiapa yang dicari-cari lkesalahannya oleh Allah, maka Allah akan membongkar aibnyawalaupun dia sembunyi di rumah ibunya.
Kemudian Syaikh Bakr berkata: “Apabila engkau mendapatkan kesalahan seorang ulama, maka janglah engkau senang untuk merendahkan martabatnya, namun senanglah karena engkau bisa membenarkan kesalahannya”. Sesungguhnya saya mengatakan:” Janganlah engkau senang sama sekali”. Jika engkau menemukan kesalahan seorang ulama, berusahalah untuk tidak mencelanya tapi (sebaliknya) berusahalah membelanya terutama kalau kesalahan itu bersumber dari seorang ulama yang dikenal keadilan dan kebaikannya”.
Adapun jika engkau merasa senang dengan hal itu, maka ini tidak layak engkau lakukan, walaupun tujuannya untuk meluruskan kesalahannya. Oleh karena itu seandainya Syaikh Bakr mengatakan:” “Apabila engkau mendapatkan kesalahan seorang ulama, maka janglah engkau senang karena bisa merendahkannya, namun carilah udzur (alasan) baginya dan luruskanlah kesalahannya”. Niscaya bahasa ini lebih tepat.
Kemudian Syaikh Bakr mengatakan: “Karena orang yang jujur akan memastikan bahwa tidak ada seorang ulamapun yang lepas dari kesalahan dan kealpaan, terutama ulama yang banyak karya ilmiyahnya.”
Orang yang jujur adalah orang yang m,ampu berkata adil. Orang semacam ini kalu menelaah ucapan para ulama niscaya akan mengetahui bahwa tidak ada seorang ulamapun kecuali mempunyai kesalahan dan kelalaian, terutama orang yang banyak menulis karya-karya ilmiyah dan banyak berfatwa. Oleh karena itu sebagian orang berkata:”Barangsiapa yang bamnyak bicaranya, akan banyak kesalahannya, dan barangsiapa yang sedikit bicaranya, akan sedikit kesalahannya.
Kemudian Syaikh Bakr berkata:” Tidak ada orang yang senang untuk meremehkannya dengan kesalahan ini kecuali orang yang berlagak pandai, orang semacam ini ingin menyembuhkan penyakit pilek malah mengakibatkan sakit lepra”. Sebenarnya tidak ada orang yang senang dengan kesalahn ulama ini dengan tujuan untuk merendahkan derajat mereka kecuali orang yang suka berbuat permusuhan.Orang ini menginginkan permusuhan dengan ulama tersebut juga permusuhan dengan ilmu yang shahih, karena orang-orang apabila menemukan kesalahan ulama tersebut, maka kekuatan pendapatnya menjadi lemah atau kekuatan pendapatnya menjadi lemah menurut mereka sampaipun dalam masalah-masalah yang shahih.
(Disalin dari kitab “ Syarah Adab & Manfaat Menuntut Ilmu” karya Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin, Hal 255-258. Penerbit Pustaka Imam Syafi’i)


